Mengungkapkan
informasi secara lisan berbentuk paparan atau dialog tentang kehidupan
keluarga
B.
Kompetensi
Dasar
:
Siswa dapat:
1.Menyampaikan gagasan atau pendapat secara lisan
dengan lafal yang tepat
2.Mempraktekkan dialog sesuai konteks dengan tepat dan
lancar
3.Menjelaskan
makna kata, frase, dan kalimat dalam hiwar/teks lisan dengan
lafal yang benar
C.
Indikator
:
1.Siswa dapat
mengungkapkan gagasan atau pendapat secara lisan dengan lafal yang tepat
2.Siswa dapat
mempraktekkan dialog sesuai konteks dengan tepat dan lancar
3.Siswa dapat mempraktekkan kalimat dalam
hiwar/teks lisan yangbaik
D.
Tujuan
Pembelajaran
:
Siswa dapat
:
1.Mengungkapkan
gagasan atau pendapat secara lisan dengan lafal yang tepat
2.Mempraktekkan
dialog sesuai konteks dengan tepat dan lancar
3.Mempraktekkan kalimat dalam
hiwar/teks lisan yangbaik
E.
Materi
Pokok
:
Muhadastah
tentang hiwar
kehidupan manusia
F.
Metode
Pembelajaran
:
Ceramah,
dan Drill
G.
Langkah-langkah
Pembelajaran
:
A.Kegiatan Awal :
-Guru
mengucapkan salam dan membuka kegiatan dengan bacaan doa.
-Dilanjutkan
dengan kalimat-kalimat sapaan dalam bahasa Arab, antara lain seperti:
كيف حالكم ؟
صباح الخير؟
-Sebelum
pelajaran dimulai guru mengabsen siswa
-Pre test (kuis tebak kata), guru menanyakan
kata-kata dalam bahasa Arab sesuai materi yang akan di ajarkan.
-Memberi motivasi dan menciptakan lingkungan
bahasa.
-Menyampaikan
indikator dan tujuan pembelajaran.
B. Kegiatan Inti :
1.Sebelum
melanjutkan materi, guru mengulas materi sebelumnya dengan tanya jawab kepada
siswa
2.Guru menyampaikan materi baru tentang teks
hiwar kehidupan keluarga secara tepat
3.Guru meminta
siswa untuk bertanya tentang kosa kata yang dianggap sulit dalam teks hiwar
4.Guru meminta
siswa untuk membaca teks hiwar tentang kehidupan keluarga secara bergantian
atau tanya jawab antara kelompok A (laki-laki) dan kelompok B (perempuan).
5.Setelah itu,
guru meminta siswa mempraktekkan teks hiwar dengan maju didepan kelas secara
bergantian
C.
Kegiatan Akhir :
-Post
test (Tanya jawab seputar teks hiwar secara umum).
-Guru
memberikan sebuah kartu permainan kepada siswa yang didalamnya ada kata untuk
dijadikan sebuah kalimat
-Guru
memberikan pujian terhadap siswa yang telah mencapai tujuan pembelajaran dan
memberikan semangat bagi yang belum, serta memberikan tugas rumah sebagai
tambahan.
-Guru
menutup kegiatan pembelajaran dengan Doa
H.
Alat
dan Sumber
:
-Buku pelajaran Bahasa Arab Terampil Berbahasa
Arab, Tiga Serangkai, 2008.
Penggunaan Metode
Thoriqoh Mubasyaroh Dalam Mengatasi Rendahnya Kemampuan Berbicara dengan
Menggunakan Bahasa Arab Pada Materi Bahasa Arab di kelas VII- di MTS Darul Ulum
Gondang Bangil. Tahun Pelajaran 2011/2012
A.Latar
Belakang
Pendidikan Bahasa Arab sudah dimulai sejak di sekolah
tingkat dasar (Madrasah ibtidaiyah).
Pendidikan itu dilanjutkan di sekolah menengah tingkat pertama (Madrasah tsanawiyah). Aktivitas pembelajaran
berjalan biasa-biasa
saja. Kalau ada masalah pada tingkat ini tidak begitu mendapat perhatian,
karena segera dimaklumi bahwa pelajaran bahasa Arab belum mendapat perhatian
begitu serius untuk pelajar setingkat ini.
Di samping itu juga masih ada anggapan
bahwa pelajar tingkat tsanawiyah adalah pelajar yang belum lama mempelajari
bahasa Arab sehingga masalah yang timbul dipandang sebagai suatu kewajaran dan
tidak menimbulkan kerisauan. Lain halnya apabila masalah itu muncul di sekolah
menengah tingkat atas (aliyah). Para pengajar akan merasakan langsung masalah-masalah dalam
pendidikan bahasa Arab di tingkat ini. Masalah tersebut tidak lagi bisa
dianggap sebagai masalah yang dapat dimaklumi begitu saja seperti ketika di
tingkat tsanawiyah. Dengan demikian permasalahan pendidikan bahasa Arab baru
muncul di tingkat aliyah, karena mulai mendapat perhatian ‘agak’ serius.
Misalnya dalam hal keterampilan
berbicara berbahasa arab, keterampilan berbicara bahasa arab merupakan
keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa dalam rangka mengembangkan
kemampuan berbahasa asing, dalam hal ini bahasa Arab. Metode yang digunakan harus mampu
bisa membuat siswa tertarik dan senang dalam proses pembelajaran. Hal inilah
yang disinyalir masih jarang atau bahkan tidak dilaksanakan sama sekali oleh
beberapa sekolah yang mengajarkan bahasa Arab.
Dari sinilah muncul beberapa masalah
yang menjadi akibatnya, antara lain : siswa tidak menyukai pelajaran bahasa
Arab karena pembelajaran yang monoton, atau siswa merasa kesulitan untuk
mempelajari bahasa Arab, khususnya berbicara bahasa Arab. Hal seperti ini juga dialami oleh siswa
kelas VII MTs Darul Ulum Gondang Bangil.
Berdasarkan pengalaman penulis di
lapangan, rendahnya kemampuan berbicara siswa menggunakan bahasa arab dalam
belajar rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang memiliki minat sedikit
untuk belajar. Sehingga siswa kurang mampu berbicara menggunakan bahasa arab.
Hal ini disebabkan karena guru dalam proses belajar mengajar hanya menggunakan
metode ceramah dan hanya terpaku dengan adanya buku panduan serta lembar kerja
siswa (LKS) tanpa menggunakan alat peraga atau media pembelajaran yang dapat
meningkatkan kemampuan berbicara bahasa arab siswa.
Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan
yang dilakukan oleh guru dengan upaya membangkitkan minat dan motivasi belajar
siswa, misalnya dengan membimbing siswa untuk menggunakan mufrodat yang telah
diberikan guru untuk berbicara kepada siswa yang lainnya, sehingga sedikit demi
sedikit siswa mampu berbicara menggunakan bahasa arab.
Berdasarkan uraian tersebut di atas
penulis mencoba menerapkan salah satu metode pembelajaran, yaitu metode Thoriqoh
Mubasyarah untuk mengungkapkan apakah dengan model penggunaan metode Thoriqoh
Mubasyarah dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa arab siswa. Penulis memilih metode pembelajaran
ini supaya mengkondisikan siswa untuk terbiasa berbicara menggunakan bahasa
arab.
Dalam metode Thoriqoh
Mubasyarah siswa lebih aktif dalam pembelajaran bahasa arab. sedang
guru berperan sebagai pembimbing atau pemberi materi dengan menggunakan media
pembelajaran yang bersifat penunjang.
Dari latar belakang tersebut di atas
maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul "Efektifitas Penggunaan
Metode Thoriqoh Mubasyarah dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara
Bahasa Arab Siswa Di Kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang
Bangil.
B.Masalah
yang diangkat oleh peneliti:
1.Rendahnya kemampuan siswa dalam hal
berbicara menggunakan bahasa Arab.
2.Guru hanya menggunakan metode
ceramah.
3.Guru hanya
terpaku dengan adanya buku panduan serta lembar kerja siswa (LKS).
4.Guru tidak
menggunakan alat peraga atau media pembelajaran yang dapat meningkatkan
kemampuan berbicara bahasa arab siswa.
C.Solusi
Penggunaan metode Thoriqoh Mubasyarah, misalnya dengan cara
membimbing siswa untuk menggunakan mufrodat yang telah diberikan guru untuk
berbicara kepada siswa yang lainnya, sehingga sedikit demi sedikit siswa mampu
berbicara menggunakan bahasa arab.
D.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan
yang hendak di kaji dapat dirumuskan sebagai berikut :
Bagaimana
pelaksanaan metode Thoriqoh Mubasyarah dalam mengatasi kesulitan berbicara
bahasa Arab
pada siswa kelas kelas Kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang
Bangil.?
Bagaimana pengaruh metodeThoriqoh Mubasyarah
dalam meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Arab siswa di kelas Kelas
VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.?
E.Tujuan
Penelitian
Sesuai dengan masalah yang hendak di kaji tersebut, maka
penelitian
ini bertujuan untuk :
mengetahui
pengaruh dari penerapan Thoriqoh Mubasyarahpada siswa Kelas VII
MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.?
mengetahui peningkatan kemampuan bebicara bahasa
arab siswa setelah diterapkannya Thoriqoh Mubasyarah pada
siswa Kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.?
.
F.Hipotesis Tindakan
Dengan menggunakan Metode Thoriqoh Mubasyarah Dapat
meningkatkan kemampuan berbicara menggunakan bahasa Arab pada siswa Kelas VII
MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.
G.Manfaat
Penelitian
Dari hasil penelitian, diharapkan dapat meberikan manfaat,
antara lain:
1.Lembaga
Sebagai pemberi informasi tentang hasil
dari penggunaan metode Thoriqoh Mubasyarah dalam proses belajar mengajar
khususnya Bahasa Arab, serta sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga dalam
memberikan kebijakan kepada para guru dalam penyampaian materi Bahasa Arab.
2.Guru
Agar guru lebih mudah dalam
menyampaikan materi yaitu secara praktis, efektif dan efesien dalam mencapai
hasil pembelajaran yang maksimal, serta untuk menambah wawasan tentang
penggunaan metode pembelajaran.
3.Siswa
Siswa agar lebih mudah dalam memahami
materi yang disampaikan guru serta lebih mudah dalam memotivasi kegiatan
belajar materi Bahasa Arab khususnya dalam hal berbicara menggunakan bahasa
Arab.
H.Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian tindakan
kelas ini adalah sebagai berikut:
1.Permasalahan
dalam penelitian tindakan kelas ini adalah rendahnya kemampuan berbicara bahasa
Arab siswa di kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.
2.Penelitian tindakan kelas ini
dikenakan pada siswa kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.
3.Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MTs. Darul Ulum
Gondang Bangil..
4.Dalam penelitian ini dilaksanakan
pada semester I tahun pelajaran 2011/2012.
5. Penelitian tindakan kelas ini dibatasi pada
kompetensi siswa dalam kemampuan berbicara dengan menggunakan bahasa
arab.
I.Definisi Operasional
Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul
penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:
1.Metode Langsung adalah metode bahasa
yang dalam pelaksanaannya menolak pemakaian bahasa ibu pelajar. Metode ini
memiliki tujuan yang terfokus pada peserta didik agar dapat memiliki kompetensi
berbicara yang baik. Karena itu, kegiatan belajar mengajar bahasa Arab
dilaksanakan dalam bahasa Arab langsung baik melalui peragaan dan gerakan.
Penerjemahan secara langsung dengan bahasa peserta didik dihindari.
2.Kemampuan berbicara adalah :
Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam
berkomunikasi menggunakan bahasa tertentu, dalam hal ini khususnya mampu atau
bisa berbicara dengan menggunakan bahasa arab dengan baik dan benar.
J.Kajian Pustaka
1.Metode Langsung (الطريقة المباشرة)
a.Sejarah Metode
Langsung (الطريقة
المباشرة)
Metode yang lazim digunakan dalam
pengajarannya adalah metode langsung (tariiqah al – mubasysyarah). Munculnya
metode ini didasari pada asumsi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup, oleh
karena itu harus dikomunikasikan dan dilatih terus sebagaimana anak kecil
belajar bahasa.
Berdasarkan asumsi yang ada dalam
proses berbahasa antara Ibu dan anak, maka F.Gouin (1980-1992) mengembangkan
suatu metode yang diberi nama dengan metode langsung (thariqah mubasyarah),
sebuah metode yang sebenarnya juga pernah digunakan dalam dunia pembelajaran
bahasa asing abad XV). Metode
ini mendapatkan momentum yang baiksejak jaman Romawi ( pada awal abad ke-20) di Eropa dan Amerika, serta
digunakan baik dinegara Arab maupun di negara-negara Islam di Asia termasuk
Indonesia pada waktu yang bersamaan.
b.Definisi Metode
Langsung (الطريقة
المباشرة)
Dari sejarah singkat distas adapat
diartikan bahwa Metode Langsung adalah metode bahasa yang dalam pelaksanaannya
menolak pemakaian bahasa ibu pelajar.
Metode ini memiliki tujuan yang terfokus pada peserta didik
agar dapat memiliki kompetensi berbicara yang baik. Karena itu, kegiatan
belajar mengajar bahasa Arab dilaksanakan dalam bahasa Arab langsung baik
melalui peragaan dan gerakan. Penerjemahan secara langsung dengan bahasa
peserta didik dihindari.
c.Karakteristik
Metode Thoriqoh Mubasyarah
Metode ini memiliki beberapa
karakterisktik, diantaranya adalah:
1)Memberi
prioritas tinggi pada keterampilan berbicara sebagai ganti keterampilan
membaca, menulis dan terjemah.
2)Basis
pembelajarannya terfokus pada teknik demonsratif; menirukan dan menghafal
langsung, dimana murid-murid mengulang-ngulang kata, kalimat dan percakapan
melalui asosiasi, konteks dan definisi yang diajarkan secara induktif yakni
berangkat dari contoh-contoh kemudian diambil kesimpulan
3)Mengelakan
jauh-jauh penggunaan bahasa ibu pelajar
4)Kemapuan
komunikasi lisan dilatih secara tepat melalui Tanya jawab yang terancang dalam
pola interaksi yang bervariasi
5)Interaksi
antara guru dan murid terjalin secara aktif, dimana guru berperan memberikan
stimulus berupa contoh-contoh, sedangkan siswa hanya merespon dalam bentuk
menirukan, menjawab pertanyaan dan memperagakannnya.
d.Kelebihan dan
Kekurangan Metode Langsung (الطريقة المباشرة)
Diantara kelebihan-kelebihan Metode
Langsung (الطريقة
المباشرة) yang di
ungkapkan oleh para pakar bahasa:
1)Kita dapat
menhindarkan diri dari menyuruh pembelajar menghafal bahasa baku yang baku yang
kadang-kadang tidak sesuai dengan pemakaian bahasa yang sesungguhnya dalam
masyarakat.
2)Perhatian dan
kegiatan-kegiatan pembelajar akan lebih besar daripada menerima pelajaran
secara verbalistik. Perhatian pembelajar merupakan tumbuh dengan sewajarnya
tanpa desakan yang dibuat-buat.
3)Pembentukan
kepribadian pelajar agar mampu berbicara secara spontanitas dengan tata bahasa
yang fungsional.
Meskipun metode ini banyak kelebihan
dibanding metode-metode yang lain, tidak bisa dimungkiri bahwa pada metode ini
terdapat juga kritikan-kritikan pedas yang dilontarkan oleh beberapa pakar
bahasa.
1)Tidak semua vokabuler dapat
diajarkan dengan cara menghubungkan secara langsung benda, situasi atau
pekerjaan yang digambarkannya. Sebagian harus dijelaskan dengan memberikan
sinonim, antonim, definisi,
penjelasan-penjelasan atau dalam pemakaiannya. Oleh karena itu banyak kesukaran
yang dihadapi dan kesalahan-kesalahan mudah terjadi.
2)Pembelajar cendcrung
secara diam-diam menterjemahkan lebih dahulu dalam hati kata-kata bahasa baru
itu ke dalam bahasa ibunya dalam usahanya mencari persamaan pengertian yang
dikemukakan dalam bahasa baru itu. Dalam hal ini tampak metode langsung lebih
kompleks daripada metode terjemahan.
3)Jika semua kata
harus diajarkan demikian, kemajuan dalam pelajaran membaca pada taraf- taraf
permulaan cenderung menjadi lambat. Pembelajar memperoleh pengetahuan kata-kata
secara berlebih-lebihan. Sedangkan penguasaan dalam pemakaiannya tidak
seberapa.
4)Pembelajar memperoleh
kesukaran tentang bentuk-bentuk tata bahasa oleh karena media dalam menerangkan
bentuk-bentuk bahasa ini merupakan sumber kesukaran. Hanya di kelas-kelas lebih
tinggi pembelajar dapat dianggap mampu berpikir dalam bahasa itu.
5)Jika pengajar
dapat menciptakan suasana pembelajar belajar bahasa ibunya, kita dapat
mengharapkan hasil pengajaran yang baik, tetapi suasana kelas yang seperti itu
hanya berlangsung dalam waktu yang pendek, sedangkan suasana yang persis sama
jarang dapat dipertahankan untuk waktu yang lama.
6)Metode langsung
tidak mengemukakan sesuatu tentang pemilihan bahan, penentuan urutan bahan dan
sangat sedikit mengemukakan cara-cara penyajian bahan, kecuali hanya
mengemukakan bahwa pengunaan bahasa ibu dan terjemahan ke dalam bahasa ibu
dilarang.
f.Petunjuk
Penggunaan Metode Thoriqoh Mubasyarah
Bentuk Pelaksanaan Pelaksanaan metode langsung secara murni
dapat digambarkan sebagai berikut. Mula mula anak-anak disuruh meniru perbuatan
pengajar dan diiringi dengan berbicara (perkataan atau kalimat yang
menggambarkan perbuatan itu). Kemudian gerak dan berbicara ini dilanjutkan
dengan dialog ringkas, percakapan segi-tiga, berempat, dan seterusnya sampai
akhirnya pelajaran menjadi sebuah sandi. wara kecil, penuh dengan gerak gerik
dan penggunaan bahasa. Kemudian pelajaran dilanjutkan dengan permainan yang
lebih panjang.
Contoh sederhana:
Seorang guru menghidupkan tape recorder
yang berisikan tentang sejarah imam Syafi’iy (dengan bahasa arab) dalam waktu
10 menit dan siswa diminta untuk mendengarkan secara seksama, setelah itu tape
recorder dibunyikan sekali lagi (untuk pemantapan bagi siswa) kemudian beberapa
siswa dimintai untuk maju kedepan untuk memperagakan apa yang telah mereka
dengar tadi.
2.Kemampuan berbicara
Bahasa merupakan alat komunikasi yang
secara esensial, umum dan bersifat sosial karena dalam komunikasi selalu ada
dua pihak yang terlibat, yaitu sebagai pemberi materi dan penerima informasi. Informasi yang dimaksud pada
dasarnya dapat dibagi atas dua jenis yaitu sebagai berikut:
a.Informasi kognitif: informasi yang
berkaitan dengan penalaran, seperti pengrtian-pengertian, asumsi-asumsi, dan
pikiran-pikiran tentang sesuatu.
b.Informasi afektif: informasi yang
berkaitan dengan perasaan sedih, rasa sakit, solidaritas, kegembiraan, dan
pengharapan.
Kedua fungsi tersebut diatas, yang paling dominan adalah
fungsi kognitif. Dalam berkomunikasi ada dua macam, yakni komunikasi lisan dan
komunikasi tulisan. Berdasarkan sistem komunikasi dalam kemampuan berbahasa ada
empat kemampuan yang harus dibina dan dikembangkan, yaitu sebagai berikut:
a.Menyimak
b.Berbicara
c.Membaca
d.Menulis
Dua kemapuan berbahasa pertama diperoleh sebagai komunikasi
lisan, yakni menyimak dan berbicara serta kemampuan berbahasa
lainnya sebagai komunikasi tertulis, yaitu membaca dan menulis. Urutan
pemerolehan kemampuan berbahasa seseorang mulai dari menyimak lalu mulai
berbicara, membaca kemudian menulis. Hal ini diperoleh waktu masih anak-anak,
namun ketika seseorang sudah mulai berusia dewasa, maka pemerolehan bahasa
selanjutnya keempat kemampuan itu sudah berfungsi integral dalam arti saling
mendukung.
Keterampilan
berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan
kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun
dengan jarak jauh. Moris dalam Novia (2002) menyatakan bahwa berbicara
merupakan alat komunikasi yang alami antara anggota masyarakat untuk
mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk tingkah laku sosial. Sedangkan,
Wilkin dalam Maulida (2001) menyatakan bahwa tujuan pengajaran bahasa Inggris
dewasa ini adalah untuk berbicara. Lebih jauh lagi Wilkin dalam Oktarina (2002)
menyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan menyusun
kalimat-kalimat karena komunikasi terjadi melalui kalimat-kalimat untuk menampilkan
perbedaan tingkah laku yang bervariasi dari masyarakat yang berbeda.[1]
K.Metode Penilitan
1.Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti memilih pendekatan kualitatif.
Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang menghasilkan penemuan-penemuan
yang tidak dapat diperoleh dengan menggunakan prosedur statistik atau dengan
cara lain dari pengukuran.[2]
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian
tindakan kelas yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kegiatan
pembelajaran dalam mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran.
Menurut T. Raka Joni dalam F.X Soedarsono penelitian
tindakan kelas merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh
pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari
tindakan-tindakan yang dilakukannya itu serta memperbaiki kondisi-kondisi di
mana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan.[3]
Penelitian ini dilaksanakan di VII MTs. Darul
Ulum Gondang Bangil. yang
terletak di Jl. Cucut No: 145 Gondang Bangil, MTs. Darul Ulum
merupakan salah satu Sekolah yang berada di Bangil di bawah naungan Departemen Agama.
Penelitian ini akan difokuskan pada peserta didik kelasVII MTs. Darul
Ulum Gondang Bangil.
yang berjumlah 36
siswa pada saat mengikuti kegiatan proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Arab.
2.Kehadiran Peneliti
Pada penelitian ini, peneliti sebagai mahasiswa dan
merencanakan kegiatan berikut :
a.Menyusun angket untuk pembelajaran
dan menyusun rencana program pembelajaran.
b.Observasi tempat serta melakukan
perizinan observasi kepada kepala sekolah.
c.Mengumpulkan data dengan cara
mengamati kegiatan pembelajaran dan wawancara kepada guru pengajar mata
pelajaran bahasa arab untuk mengetahui proses pembelajaran yang dilakukan oleh
guru kelas.
d.Melaksanakan rencana program
pembelajaran yang telah dibuat.
e.Melaporkan hasil penelitian.
3.Lokasi Penelitian.
Penelitian dilaksanakan di MTs. Darul Ulum Gondang, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.
4.Data dan sumber.
Data dalam penelitian ini adalah kemampuan berbicara siswa
dalam menggunakan bahasa arab. Data untuk hasil penelian diperoleh berdasarkan
nilai ulangan harian (test) dan hasil wawancara peneliti dengan guru serta
peneliti dengan siswa.Sumber data penelitian adalah siswa kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil sebagai obyek penelitian.
5.Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan teknik sebagai berikut :
a.Wawancara
Wawancara awal dilakukan pada guru dan siswa untuk
menentukan tindakan. Wawancara dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa.
b.Angket
Angket merupakan data penunjang yang digunakan untuk mengumpulkan informasi
terkait dengan respon atau tanggapan siswa terhadap penerapan metode
audio-lingual.
c.Observasi
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan berbicara bahasa arab
siswa yang ada selama pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan dengan
menggunakan lembar observasi yang telah disusun. Obsevasi dilakukan oleh
peneliti perseorangan.
d.Test
Test dilaksanakan setiap akhir siklus, hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil
yang diperoleh siswa setelah pemberian tindakan. Test tersebut berbentuk tanya
jawab agar dapat mengasah kemampuan berbicara bahasa arab siswa.
e.Catatan lapangan
Catatan lapangan digunakan sebagai pelengkap data penelitian
sehingga diharapkan semua data yang tidak termasuk dalam observasi dapat
dikumpulkan pada penelitian ini.
f.Analisis data
Proses analisis data dimulai dengan menelah seluruh data
yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah
ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto,
dan sebagainya.
6.Tahap-tahap Penelitian.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan proses
pembelajaran yang dilakukan adalah model pembelajaran dengan menggunakan metode
Thoriqoh Mubasyaroh.Penelitian
ini akan dilaksanakan dalam 2 siklus . Setiap siklus tediri dari
perencanaan, tindakan, penerapan tindakan, observasi, refleksi.
Siklus I:
a.Perencanaan
Sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan
atau perencanaan. Kegiatan pada tahap ini adalah :
lPenyusunan
RPP dengan metode audio-lingual yang direncanakan dalam PTK.
lPenyusunan
lembar masalah/lembar kerja siswa sesuai dengan indikator pembelajaran yang
ingin dicapai
lMembuat
soal test yang akan diadakan untuk mengetahui hasil pembelajaran siswa.
lMemberikan
penjelasan pada siswa mengenai teknik pelaksanaan model pembelajaran dengan
menggunakan metode audio-lingual yang akan dilaksanakan.
b.Pelaksanaan Tindakan
1)Melaksanakan kegiatan sesuai dengan
rencana pembelajaran yang telah dibuat.
Dalam pelaksanaan penelitian guru
menjadi fasilitator selama pembelajaran, siswa dibimbing untuk belajar bahasa
Arab dengan menggunakan model pembelajaran dengan menggunakan metodeThoriqoh
Mubasyaroh.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah:
2)Guru memberikan materi berbahasa
arab menggunakan metodeThoriqoh
Mubasyaroh
dengan media yang telah dipersiapkan seperti kaset, video atau suara dari guru
langsung.
3)Siswa diharapkan mendengarkan dengan
baik serta memahami materi bahasa arab yang tengah di dengarnya.
4)Setelah mendengarkan dan memahami
guru menyuruh siswa menjelaskan kembali materi yang telah di dengarnya dengan
menggunakan bahasa arab yang baik dan benar.
5)Guru memberikan soal tanya jawab
kepada siswa sesuai dengan materi yang telah diberikan.
6)Guru memberikan test dengan model Test
Isian.
7)Kegiatan penutup
Di akhir pelaksanaan pembelajaran pada tiap siklus, guru
memberikan test secara tertulis untuk mengevalausi hasil belajar siswa selama
proses pembelajaran berlangsung.
c.Observasi
Pengamatan dilakukan selama proses
proses pembelajaran berlangsung dan hendaknya pengamat melakukan kolaborasi
dalam pelaksanaannya.
d.Refleksi
Pada tahap ini dilakukan analisis data yang telah diperoleh.
Hasil analisis data yang telah ada dipergunakan untuk melakukan evaluasi
terhadap proses dan hasil yang ingin dicapai.
Refleksi daimaksudkan sebagai upaya
untuk mengkaji apa yang telah atau belum terjadi, apa yang dihasilkan,kenapa
hal itu terjadi dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi digunakan untuk
menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan pada
siklus II.
Siklus II:
Kegiatan pada siklus dua pada dasarnya
sama dengan pada siklus I hanya saja perencanaan kegiatan mendasarkan
pada hasil refleksi pada siklus I sehingga lebih mengarah pada perbaikan pada
pelaksanaan siklus I.